.

.

.

Minggu, 20 Oktober 2013

Sungai NIL

Daerah aliran sungai Nil di Afrika Utara merupakan tempat perkembangan peradaban Mesir Kuno. Sekitar 6000 SM, masyarakat Pra-Kerajaan Mesir (sebelum sistem monarki didirikan di Mesir) sudah mampu bercocok tanam dan menggembalakan ternak. Usaha komunikasi visual awal dapat teramati dari simbol-simbol yang terdapat pada gerabah dari Gerzeh, sekitar 4000 SM, yang menyerupai aksara hieroglif Mesir Kuno. Mortar mulai digunakan sejak 4000 SM, dan tembikar glasir bening mulai diproduksi sejak 3500 SM. Rumah sakit atau pusat pelayanan medis didirikan sekurang-kurangnya sejak 3000 SM.
Bukti arkeologis mengindikasikan keberadaan manusia di kawasan barat daya Mesir, dekat perbatasan Sudan, sekitar 8000 SM. Sejak sekitar 7000 SM sampai 3000 SM, iklim Sahara lebih lembab daripada kini, sehingga memungkinkan kegiatan bercocok tanam di tanah yang kini telah gersang. Perubahan iklim setelah 3000 SM menyebabkan proses kegersangan secara berangsur di kawasan tersebut. Sebagai dampak dari perubahan tersebut, suku-suku kuno penghuni Sahara terdesak untuk pindah ke daerah sekitar sungi Nil sekitar 2500 SM. Di sana mereka mengembangkan ekonomi agraris serta sistem masyarakat yang lebih kompleks. Suku yang sudah sejak lama mendiami pinggiran sungai Nil juga telah mengembangkan masyarakat mereka secara mandiri. Hewan ternak sudah diimpor dari Asia antara 7500 SM sampai 4000 SM.
Bangsa Mesir Kuno dikenal karena sejumlah prestasi dan penemuan dalam sejarahnya, di antaranya pembangunan piramida kolosal mereka, ilmu bedah kuno, ilmu matematika, dan transportasi dengan perahu. Kebangkitan dinasti-dinasti Mesir dimulai setelah bersatunya Mesir Hulu dan Hilir sekitar 3200 SM, dan berakhir sekitar tahun 340 SM, saat dimulainya kuasa Dinasti Akhemeniyah atas wilayah Mesir. Kerajaan Mesir dipimpin oleh penguasa monarki bergelar firaun. Pada puncak kejayaannya, kerajaannya terbentang dari delta sungai Nil hingga gunung Jebel Barkal di Sudan.
Masyarakat Mesir Kuno bergantung pada keseimbangan sumber daya alam dan manusia, terutama irigasi sungai Nil yang membantu pertanian mereka. Bangsa ini dikenal sebagai pengguna tulisan hieroglif, pembangun piramida, kuil, dan pemakaman bawah tanah, serta pengguna kereta perang sebagai pendukung kekuatan militernya. Ada perbedaan besar pada kelas dalam masyarakatnya. Sebagian besar anggota masyarakatnya merupakan petani namun mereka tidak berhak atas hasil pertanian yang mereka usahakan. Hasil pertanian merupakan milik negara, kuil, atau keluarga bangsawan yang memiliki lahan pertanian. Perbudakan juga ada, namun aplikasinya pada masyarakat Mesir Kuno masih belum jelas.
Read more...

Sabtu, 19 Oktober 2013

Peradaban Sungai Indus

Peradaban Lembah Sungai Indus atau Peradaban Harappa terjadi sekitar 3300 SM, dan tahap-tahap permulaannya terjadi pada masa sebelum 4000 SM. Peradaban tersebut berpusat pada kawasan sekitar sungai Indus (sebagian besar merupakan wilayah Pakistan, dan sebagian kecil merupakan wilayah Afganistan, Iran, dan India), terbentang ke timur sampai lembah sungai Ghaggar-Hakra dan hulunya mencapai doab Gangga-Yamuna peradaban tersebut terbentang ke barat sampai pesisir Makran di Balochistan, ke utara sampai Afghanistan Tenggara dan ke selatan sampai Daimabad di Maharashtra. Perkembangan peradaban tersebut terbagi dalam beberapa tahap dan menandai pembangunan kota-kota di anak benua India. Di kawasan peradaban itulah kegiatan pertanian pertama di Asia Selatan terjadi. Gandum, jelai, dan jujuba dibudidayakan sekitar 9000 SM; budi daya domba dan kambing menyusul kemudian. Budidaya jelai dan gandum—juga usaha peternakan, terutama domba dan kambing—berkembang di Mehrgarh sekitar 8000-6000 SM. Pada periode tersebut juga terjadi domestikasi gajah. Sekitar milenium ke-5 SM, masyarakat agraris tersebar di kawasan Kashmir. Di situs pemakaman dari zaman peradaban ini ditemukan barang-barang yang sudah bisa diproduksi pada masa tersebut, yaitu: keranjang, peralatan dari batu dan tulang, kalung, rantai, dan anting-anting. Pernak-pernik dan ornamen kulit kerang, batu kapur, batu pirus, lapis lazuli, batu pasir, dan tembaga juga ditemukan.
Dalam peradaban ini, beberapa kota besar berkembang, di antaranya: Harappa (3300 SM), Dholavira (2900 SM), Mohenjo-Daro (2500 SM), Lothal (2400 SM), dan Rakhigarhi, serta lebih dari 1000 kota kecil dan desa. Perkotaan pada masa peradaban tersebut dikenal dengan arsitekturnya yang dibangun dari bata, memiliki sistem drainase pinggir jalan, dan perumahan bertingkat. Kota-kota besar tersebut luasnya sekitar satu mil, dan jarak yang jauh antara satu kota dengan kota lainnya kemungkinan besar merupakan tanda sentralisasi politik, baik dalam bentuk dua negara kota, atau imperium tunggal dengan ibukota alternatif, atau mungkin Harappa menggantikan Mohenjo-daro, yang diketahui pernah hancur akibat banjir bandang tidak hanya sekali. Peradaban lembah sungai indus juga dikenal akan penggunaan pecahan desimal pada sistem pengukuran kuno.
Pada akhir milenium ke-1 SM, perkembangan peradaban lembah sungai Indus memasuki periode Weda, menurut estimasi masa penyusunan Regweda (sekitar 1700 SM hingga 1100 SM), kumpulan himne keagamaan yang menjadi fondasi bagi agama Hindu dan aspek kultural lainnya pada masyarakat India awal. Rentang waktu periode ini tidak diketahui dengan pasti, dan masa berakhirnya diperkirakan sekitar abad ke-6 SM. Pada periode tersebut sudah ada religi yang menjadi perintis bagi agama Hindu seperti yang dikenal pada masa kini.
Read more...

Jumat, 18 Oktober 2013

Yunani Kuno

Di Gua Franchthi di Peloponesia, sebelah tenggara Argolid, terdapat bukti mengenai kegiatan pertanian purbakala di Yunani. Sejak sekitar 11.000 SM, budi daya biji-bijian, kacang-kacangan, dan serealia terjadi pada masa yang sama, sementara haver dan jelai muncul sekitar 10.500 SM, sedangkan ercis dan pir sejak sekitar 7.300 SM. Permukiman Neolitik tersebar di seluruh Yunani, dengan kegiatan meliputi pertanian dan produksi gerabah. Situs terkemuka seperti Sesklo dan Dimini, sudah memiliki jalan dan alun-alun. Hal tersebut menjadikannya contoh tata ruang kota purbakala di daratan Eropa. Situs penting lainnya yaitu Dispilio, tempat penemuan sabak kuno dengan guratan-guratan seperti tulisan kuno.
Peradaban Minoa merupakan peradaban Zaman Perunggu pertama di kawasan Yunani. Peradaban tersebut muncul di pulau Kreta dan berkembang sekitar 2700 SM sampai 1500 SM, namun awal perkembangannya terjadi pada masa jauh sebelum itu.[71] Pulau Kreta mulai dihuni oleh manusia sekurang-kurangnya sejak 128.000 SM, selama zaman Paleolitik Madya.Tanda-tanda kegiatan pertanian yang lebih canggih, sebagai awal suatu peradaban, muncul sekitar 5000 SM. Keberadaan peradaban tersebut sempat terlupakan, sebelum ditemukan pada awal abad ke-20 oleh arkeolog Inggris, Sir Arthur Evans. Will Durant memandang peradaban tersebut sebagai "mata rantai pertama pada untaian [sejarah] Eropa.
Peradaban Mikene berkembang di seberang utara Kreta sejak sekitar 1600 SM, ketika kebudayaan Helladik di Yunani daratan bertransformasi di bawah pengaruh kebudayaan Minoa dari Kreta. Tidak seperti masyarakat Minoa yang mengandalkan perdagangan, masyarakat Mikene lebih menyukai penaklukan. Peradaban Mikene didominasi oleh aristokrasi kesatria. Sekitar 1400 SM, bangsa Mikene memperluas jangkauan kekuasaan mereka ke Kreta, pusat peradaban Minoa (yang pada masa itu mengalami bencana letusan Santorini), dan mengadopsi suatu bentuk aksara Minoa yang disebut Linear A untuk menuliskan bahasa Yunani Kuno; aksara yang dikembangkan pada masa peradaban Mikene kemudian disebut Linear B. Legenda Yunani menyebutkan bahwa bangsa Mikene tidak hanya menaklukkan Minoa, tetapi juga negara kota Troya, disebutkan dalam wiracarita Illiad sebagai saingan kekuasaan Mikene. Karena satu-satunya catatan sejarah konflik tersebut adalah Iliad karya Homeros, maka sejarah Troya dan Perang Troya belum bisa dipastikan. Tahun 1876, arkeolog Jerman Heinrich Schliemann menemukan reruntuhan di Hissarlik di Asia Minor sebelah barat (kini wilayah Turki) dan mengklaimnya sebagai bekas kota Troya. Kepastian mengenai lokasi tersebut sebagai Troya seperti yang dituturkan oleh Homeros masih diperdebatkan.
Kebudayaan Yunani memiliki pengaruh besar pada peradaban-peradaban Eropa yang muncul di kemudian hari, terutama peradaban Romawi. Bangsa Yunani mengembangkan konsep yang kini dikenal sebagai negara kota, atau polis. Kata "politik" berasal dari konsep tersebut, yang secara harfiah berarti segala hal menyangkut polis. Ada banyak polis pada masa Yunani Kuno; beberapa yang terkemuka di antaranya: Athena, Sparta, Korintus, dan Thebes. Kota-kota tersebut tidak memiliki hubungan intens satu sama lain, karena bentang alam Yunani yang didominasi pegunungan dan banyak pulau. Apabila suatu kota tidak lagi memiliki cukup pangan untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduknya, maka beberapa orang keluar dari kota tersebut untuk mendirikan kota baru. Kota baru itu dikenal sebagai koloni. Tiap kota bersifat mandiri dan diperintah langsung oleh seseorang di kota tersebut. Koloni-koloni juga menjalin hubungan dengan kota asal mereka demi perlindungan. Ketika daratan Yunani terancam perang (contohnya saat melawan kekaisaran Persia), terjadi persekutuan antarnegara-kota untuk menanggapi ancaman tersebut. Selain itu juga dapat terjadi perang antara negara kota yang berbeda.
Read more...